Langsung ke konten utama

REVIEW : Phantom Thread (2017)

Phantom Thread adalah sebuah film indah sebagai ucapan perpisahan dari Daniel Day Lewis lewat sajian drama romansa yang melankolis tentang toxic masculinity dan relationship.Film drama romansa kedua dari PTA yang berani beda dan unik ketimbang film sekelasnya.

Bahas soal plotnya film ini memang memiliki premis yang cukup menarik,tidak bisa dipungkiri kalau filmnya berkutat tentang toxic masculinity dan juga toxic relationship dimana seorang laki-laki yang terlalu banyak "meminta" kepada sang istri.Saya suka tipe film drama romansa yang seperti ini,gak lebay dan yang pasti cenderung lebih realistis.Melihat bagaimana dua manusia yang saling bertemu dan jatuh cinta butuh proses yang panjang dan sulit menunjukkan betapa kuatnya cinta mereka.Ceritanya juga simple kok,mudah dipahami meski sekitar 30 menit menuju akhir film ada satu keputusan yang cukup menggangu saya dan terkesan kurang masuk akal (mau dibahas tapi takut spoiler).Filmnya bukan hanya tentang "jatuh cinta" saja tapi juga tentang gejolak batin antara tuntutan duniawi (bekerja) atau hidup untuk mecintai dan dicintai selamanya. Tapi secara keseluruhan sih dengan durasi 2 jamnya ini film bisa dengan mudah kalian nikmati apalagi buat para pecinta drama-romansa.Saya sampai bingung mau ngomongin apa soal aspek cerita karena takut spoiler wkwkwk karena yaa memang plot film ini simple dan to the point kok asal kalian tahan 2 jam menontonnya


Setelah menonton semua film PTA,saya berani bilang kalau PTA tidak pernah gagal menulis sebuah karakter.Kekuatan utama PTA bagi saya bukan diceritanya yang canggih dan selalu kompleks tapi di karakternya.Dua karakter utama Reynolds dan Alma ini hampir berbeda di segala sisi.Reynolds adalah orang yang perfeksionis,kaya dan rapih di segala sisi sedangkan Alma adalah karakter yang gegabah,kerja sebagai pelayan,dan sebagai orang desa yaa tampil seadanya aja.Tapi itu hal yang menjadi fokus utamanya,cinta itu harus kompromi antar satu sama lain.Sepanjang film kita bisa melihat bagaimana Reynolds yang kian hari berusaha memaklumi tingkah Alma,mesi terkadang suka khilaf tapi Alma tau cara mengatasinya (spoiler akh).Sedangkan Alma selalu mengikuti kemauan Reynolds yang serba perfeksionis. Saya suka bagaimana chemistry mereka berdua apalagi ketika tahu bahwa mereka berdua hanya bisa merasa dicintai dan mecintai disaat Reynolds bekerja.Karakternya juga minim sih bisa dihitung dengan jari jadi jangan khawatir kalian bakal pusing atau lupa karena semua karakter di film ini dipakai dengan efektif.Narasinya oke lah,yang menarik itu metafora yang dipakai ketika cinta = lapar sehingga kita tahu kapan Reynolds benar benar merasakan cinta.


Visual film ini sih udah gakada otak,film kedua setelah The Master yang tidak dapat apresiasi dalam aspek Sinematografi karena satu hal, film ini tidak ada sinematografernya. Sebetulnya PTA bisa saja mengkreditkan dirinya sebagai sinematografer (layaknya Cuaron di Roma) tapi PTA merasa bahwa timnya juga membantu doi.Terlepas dari hal tersebut ya mau dikata apa lagi film ini emang cantik + indah.Lightningnya itu lohhh,penggunaan cahaya di film ini mirip dengan The Master yang memang terkadang sedikit lebay tapi membuat visualnya lebih berani.Penggunaan long extreme shot,tracking shot,dan beberapa close up sepanjang film membuat saya takjub dan bahkan cukup liat visualnya aja udah nilai 6 sendiri dah wkwkwk. Saya suka adegan mobil dengan peletakan kameranya itu menarik banget sih.Kostum dan Set Designnya juga makin memeriahkan visual film ini.Soundtracknya juga asik,mungkin ini soundtrack kedua favorit saya dari kolaborasi Jonny dan Paul setelah TWBB.Scoring yang kalem dan dengan melody nya berhasil membuat adegan romansa atau ketika adegan konfrotasinya menjadi lebih bermakna.Aspek teknis di film ini emang jempolan deh pokoknya

Overall Phantom Thread lagi-lagi kembali menunjukkan kebolehan PTA dalam menggarap berbagai genre film.Berbeda dengan Punch Drunk Love yang romansanya terlalu dramatis,Phantom Thread memberikan waktu yang cukup untuk melihat cinta dan kasih sayang lewat premis unik,karakter dan akting yang mantap,dan pastinya visualnya yang membuat film ini pantas untuk dinikmati dan dikasih makan

SCORE : 80++

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Enola Holmes (2020)

Enola Holmes adalah film original Netflix ketiga yang rilis di bulan ini dan film ini memang sesuai kok dengan ekspektasi saya.Sebuah campuran atau kombinasi film Deadpool dan Sherlock Holmes yang penuh misteri dan teka-teki detektif nan asik dan juga menghibur. Plot yang dibawa mungkin bisa dibilang unik namun di satu sisi juga biasa aja.Unik karena film ini mengexplore karakter wanita dalam "dunia" Sherlock Holmes sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam medium film.Memang sih di film ini masih ada Sherlock Holmes itu sendiri tapi film ini berfokus kepada karakter wanita,Enola Holmes yang membuat film ini punya premis menarik dan terbilang segar.Biasa saja karena yah jatuhnya ajdi seperti film film detektif atau film yang berisi karakter "Holmes" pada umumnya.Saya pribadi sekitar pertengahan film sudah bisa menebak alur film ini dan endingnnya juga tidak terlalu "wow" banget (subjektif sih ini).Saya pribadi kurang srek sama subplot di film ini yang han...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.