Langsung ke konten utama

REVIEW : Borat Subsequent Moviefilm (2020)

Borat kedua dengan sub judul Delivery of Prodigious Bribe to American Regime for Make Benefit Once Glorious Nation of Kazakhstan yang lebih panjang nyatanya malah kurang melanjutkan jati diri dan keunikan film sebelumnya dengan mockumentarynya. Film ini kok rasanya malah kurang "Borat" yah

Sebagai sebuah sekuel sih film ini berhasil melanjutkan film Borat sebelumnya dengan cukup solid, melanjutkan ceritanya ketika Borat memalukan Kazakhstan (IRL juga sih ini wkwkwk) membuat dia kembali ke Amerika untuk menebusnya. Komedinya yang nyeleneh dan absurd masih disajikan di film ini dengan sentuhan satire yang lebih mengenai politik di Amerika, film ini memang diperuntukkan untuk rilis beberapa bulan sebelum Pemilu Presiden di US & A (yang sekarang lagi ramai juga). Bagi saya masalahnya di film ini ada pada eksekusinya, terlihat di beberapa bagian bahwa film ini tidak lagi sepenuhnya sebuah mockumentary melainkan hanya menjadi sebuah film komedi-drama klise saja. Padahal film pertamnya itu saya apresiasi sekali mengingat betapa realistisnya Borat ini melakukan troll atau prank sebagai komedi ke orang langsung. Ya memang ada beberapa adegan yang beneran terjadi seperti saat acara konfrensi, interview, Borat tinggal 5 hari dengan orang asing, hingga Borat  manggung. Cuma ya memang terlihat dari cara bertuturnya hingga visualnya juga mulai terasa kalau film ini melupakan jati diri film Borat sebelumnya


Karakter untuk film ini sih lumayann, saya pribadi bakal lebih milih karakter Azamat ketimbang Tutar di film ini. Karena memang inti utamanya ada di Borat sehingga film pertamanya memang lebih fokus ke Borat, namun di film ini kayaknya sang sutradara ingin memberikan sedikit "rasa" dramatis dengan menambahkan bumbu drama ayah - anak yang sejujurnya sedikit maksa. Karakter baru Tutar ini terlihat kurang memorable lah ya ketimbang Azamat sebagai rekan Borat di film sebelumnya, mengingat kemunculannya yang memang hanya untuk "hadiah" saja.Tapi untuk film keduanya ini Sacha Baron Cohen tetap harus diapresiasi berkat ke-nekatannya serta briliantnya dalam berkomedi sebagai Borat.Oh ya saya kasih nilai plus juga buat ngasih Tom Hanks cameo deh wkwkwkUntuk narasi juga film ini biasa saja, meski film ini punya sebuah plot twist yang diluar ekspektasi saya tapi secara keseluruhan narasinya sih kurang lebih sama dengan film sebelumnya. Mungkin komedi di film ini tidak terlalu kotor ketimbang film sebelumnya tapi dialog jenaka dengan satirenya masih menjadi primadona. 


Visual film ini juga biasa saja, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya meski tetap mockumentary tapi terlihat dari beberapa visual dan sinematografinya tidak membuat saya percaya bahwa ini adalah sebuah film dokumenter yang nyata. Meski saya tahu memang ada beberapa adegna yang memang nyata tapi interaksinya seperti terbatas, berbeda memang di kala orang-orang tidak mengenal Borat. Penyebab lainnya juga ada di penggunaan CGI-nya yang berlebihan, ada dua scene di akhir film yang CGI-nya benar-benar jelek banget dahh. Terlihat di beberapa adegan kalau film ini menggunakan berbagai macam kamera mulai dari kamera untuk film sampai ke hidden camera. Urusan sinematografi sih juga biasa saja, standarnya film-film dokumenter sekelasnya lah ya. Untuk aspek teknis di film ini sih memang biasa banget. Oh soundtracknya lumayan, asik dah wkwkwk. Mirip dengan film sebelumnya dengan scorenya yang tradisional gitu setidaknya membuat aspek soundtrack di film ini bisa menjadi nilai plus.
 
Overall Borat Subsequent Moviefilm ini masih menjadi sebuah tambahan yang enjoyable, penuh komedi pastinya, dan masih menarik untuk perjalanan karakter Borat. Meski memang plotnya yang kadang terlalu serius hingga karakternya yang masih kurang apik tapi secara keseluruhan yaa film ini masih memenuhi tujuannya sebagai film yang menghadirkan humor hingga membuat perut sakit serta sindiran satire yang berbobot.

SCORE : 75

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Enola Holmes (2020)

Enola Holmes adalah film original Netflix ketiga yang rilis di bulan ini dan film ini memang sesuai kok dengan ekspektasi saya.Sebuah campuran atau kombinasi film Deadpool dan Sherlock Holmes yang penuh misteri dan teka-teki detektif nan asik dan juga menghibur. Plot yang dibawa mungkin bisa dibilang unik namun di satu sisi juga biasa aja.Unik karena film ini mengexplore karakter wanita dalam "dunia" Sherlock Holmes sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam medium film.Memang sih di film ini masih ada Sherlock Holmes itu sendiri tapi film ini berfokus kepada karakter wanita,Enola Holmes yang membuat film ini punya premis menarik dan terbilang segar.Biasa saja karena yah jatuhnya ajdi seperti film film detektif atau film yang berisi karakter "Holmes" pada umumnya.Saya pribadi sekitar pertengahan film sudah bisa menebak alur film ini dan endingnnya juga tidak terlalu "wow" banget (subjektif sih ini).Saya pribadi kurang srek sama subplot di film ini yang han...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.