Langsung ke konten utama

REVIEW : 1917 (2019)

Setelah dielu-elukan di media luar dan bahkan menang penghargaan bergengsi di Golden Globes,1917 memang menawarkan pengalaman cinematic tak terlupakan lewat visualnya namun hanya itu saja yang spesial dalam film ini


Plot film yang disuguhkan memang simple akan tetapi tema yang dibawa unik karena bercerita tentang "tukang pos" tapi di dunia perang.Kekuatan utama film ini menimbulkan tension atau membuat tegang para penonton dan memang di beberapa bagian, film ini berhasil menunjukkan adegan yang menegangkan.Film ini terlihat bersusah payah membuat penonton tidak bosan dengan plotnya yang sesimple itu.Memang minim adegan aksi tapi cerita yang diberikan dengan eksekusinya yang mantap membuat plotnya masih terbilang bagus dan menarik.First Act film langsung bercerita dengan sangat ketat dan tepat begitu juga seterusnya meski Second Act agak sedikit membosankan 

Karakter film ini sedikit hanya dua karakter utama yang mimin kira bakal punya character development yang baik namun nyatanya kurang diexplore, apalagi film ini membawa drama kakak adik namun kurang dimantapkan.Chemistry Schofield dan Blake juga kurang kuat sehingga ketika adegan emosional juga kurang ngena di hati.Tapi secara keseluruhan semua karakter digunakan dengan sangat baik, hanya kekurangan minor yang sebetulnya bisa lebih baik lagi.Narasi film juga tergolong cukup saja, memang narasinya juga simple dan dialognya juga SPJ tapi kurang menguatkan para karakter

Aspek teknisnya tidak usah diragukan lagi,memang ini kekuatan utama film ini dan benar benar menjadikan film ini sebuah cinematic experience yang megah,keren,dan memuaskan (Best Cinematography 2019).Film yang dieksekusi dengan teknik one continuous shot menjadikan film ini serasa nyata.Tone warna yang kalem dan pas dengan tiap set designnya yang apik (apalagi pas di Ecoust scene malam).Mata edan Roger Deakins dengan berbagai shotnya sangat memanjakan mata mimin.Soundtrack film ini juga bagus dan membangun suasana dengan sangat baik lewat scoring epik dan mencekam 


SCORE : 85

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Cam (2018)

Campuran antara sci-fi dengan horror thriller yang memang memiliki premi menarik serta menghadirkan kritik sosial tentang sosial media. Namun plot dan narasinya yang berantakan malah membuat penonton pada akhirnya merasa tidak puas dan kecewa dengan film satu ini Kalau boleh jujur sebetulnya plot film ini ya biasa saja,premisnya sih memang menarik dan rasanya seperti film Unfriended atau Nerve gitu. Plotnya juga berjalan dengan cukup baik lewat twist yang sudah cukup disiapkan dengan matang. Masalahnya ada di eksekusinya sih,di satu sisi film ini berusaha mengangkat drama realita kehidupan sebagai girl cam dengan konflik percintaan dan keluarga yang memang tidak pernah berjalan mulus. Namun di satu sisi juga film ini berusaha untuk bisa memberikan sajian horror thriller yang memuaskan. Jadinya yah film ini malah kacau, inkonsisten kalau bisa dibilang. Saya pribadi tidak merasakan dimana letak horrornya, saya lebih menganggap film ini sebagai film drama satire tentang realita pengguna s...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.