Langsung ke konten utama

REVIEW : The Half of It (2020)

The Half of It membawakan cerita drama-romance yang cukup kompleks dengan sentuhan komedi jenaka yang berhasil membuat saya terhibur namun sayangnya premis film ini sudah tergolong klise dan terlalu generic di zaman sekarang ini


Cerita yang dibawa memang simple,lebih ke tentang drama cinta segitiga namun dipoles dengan isu LGBT.Cerita yang simple tadi dibawakan dengan gaya romcom yang bukan hanya menghibur namun juga drama romansa yang kompleks tadi juga dibawa dengan sangat serius.Film ini banyak menggunakan puisi atau filsafat tentang cinta yang ketika film ini mulai saya pikir ini film yang serius dan berbeda dengan film drama mainstream kebanyakan namun ternyata film ini mudah dipahami meski ada masalah di narasinya yang nanti bakal saya bahas.Tema tentang LGBT ini sudah sering diangkat ke film romcom dan  film ini juga melakukan hal yang sama dan sayang sekali film ini tidak menawarkan sesuatu yang fresh selain drama cinta segitiganya.Hubungan ketiga karakter yang makin kompleks juga terkadang membuat saya mengerutkan dahi,bingung mau dibawa kemana nasib ketiga karakter ini dan endingnya juga kurang berhasil dalam memberikan jawaban atas pertanyaan saya.Film ini punya porsi romcom yang lebih pas dan seimbang ketimbang Palm Springs tapi paruh awal film ini harusnya bisa ditingkatkan lagi

Karakternya bisa dibilang bagus terlebih soal character development ketiga karakter yang membawa rasa film ini malah ke film coming-of-age dimana para karakternya kian berkembang dan kita sebagai penonton bisa melihat masing masing karakter berubah baik dalam sikap maupun pilihan hidupnya.Chemistry ketiga karakter juga solid dan aktingnya juga cukup bagus,saya pribadi suka dengan karakter Paul Munsky yang baik,lugu dan polos tentang masalah percintaan.Kekurangan yang paling kerasa di film ini ada pada narasinya yang menurut saya cukup berantakan,film ini menang Award Best Narrative di Tribeca Film Festival dan entah kenapa saya kurang puas dengan narasinya.Opening yang terlalu banyak eksposisi dan dialog hampir membuat saya ngulang filmnya dari awal.Pendekatan narasi dengan visual text layaknya sedang chat di film memang efektif dalam membantu jalannya film tapi kalau bahas soal dialognya yang ngelantur kemana mana serta banyaknya eksposisi di sana sini terkadang membuat saya kesal sendiri


Visual film ini bagus,saya suka dengan visualnya yang punya color pallete pas dan set design di kota kecil yang menambah kehangatan dan kenyamanan saat menonton film romansa ini.Sinematografi film ini juga bagus.Ada beberapa wide shot pemandangan yang kece,tracking shot dengan visual simeteris, dan scene di danau rahasia dengan refleksi air yang bagus membuat visual film ini malah lebih bagus ketimbang film sebelumnya Palm Springs.Film ini menggunakan visual text layaknya chat yang simple sehingga tidak membuat tampilan film terkesan penuh dengan tulisan.Scoring film ini sih biasa aja,seperti film romcom pada umumnya yang memang saya kurang suka wkwk.Banyak penggunaan lagu lagu pop atau jadul tahun 80-90an yang cukup berhasil dalam membangun suasana meski terkadang lagu yang dipakai kadang malah buat saya gagal fokus.

Overall film ini punya rasa cinta,kehangatan,dan pertemanan namun quotes dari Ellie Chu tentang "Cinta itu berantakan,buruk,egois,dan berani" yang kurang lebih menggambarkan film ini.Berantakan dengan narasinya,plotnya yang egois,namun film ini berani dalam menyuguhkan romcom dengan isu LGBT yang membuat saya cukup terhibur dan ambyar sama film ini

SCORE : 75

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Sonic The Hedgehog (2020)

Film Sonic The Hedgehog adalah usaha sekian kalinya industri Hollywood membuat film dari adaptasi game dan secara mengejutkan film ini cukup membuahkan hasil yang positif meski kurang optimal di berbagai aspek Sudah ada berbagai film diadaptasi dari game dan so far kesalahannya ada pada plot yang melupakan origin story karakter utama dalam hal ini si sonic.Plot dibuka terlalu cepat serta beberapa pacing yang buruk.Mimin gak dapet chemistry Tom dan Sonic sepanjang film, apa karena Tom orang yang baik jadi dengan santai mau membantu "alien"??Meski demikian mimin cukup puas dengan ending yang diberikan lewat berbagai aksi spektakuler,scene slow motion mirip quicksilver,dan komedi jenaka yang efektif memang patut diacungi jempol Character Developmentnya memang buruk apalagi kehadiran Sonic yang seakan seakan mengisyaratkan semua sudah tau dan paham betul origin karakternya sehingga karakter Sonic sendiri kurang digarap dengan baik. Narasi yang suka hit dan miss terlebih chemistry...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.