Langsung ke konten utama

REVIEW : The Extraction (2020)

Extraction yang disebut sebagai film Original Netflix terbaik ini memang menawarkan adegan aksi campuran john wick + the raid dengan cerita yang simple sehingga cocok untuk mereka yang mencari tontonan hiburan semata tapi apakah masih worth it???


Jangan banyak berharap sama plot film ini,seperti layaknya film action packed kebanyakan,
film ini punya cerita yang mudah diikuti dan memang tidak menawarkan sesuatu yang baru.Klise sudah pasti meski punya premis yang cukup unik tapi tetap saja cerita yag dibawa memang predictable dan biasa aja.Karena film ini menggunakan template yang sama maka saya bahas kendala yang lain yaitu kurangnya lore untuk tim 'extraction' ini.Saya sebagai penonton tidak mendapat cerita yang lebih mendalam terkait tim Ekstraksi ini yang bakal lebih menarik untuk diceritakan.Yah tapi mau gimana lagi meski film ini memang klise tapi film ini nyatanya memang menghibur kok.Paduan komedi-aksi yang keren dan pasti memicu adrenalin berhasil tampil di film ini meski aspek drama yang lemah.Tonton tanpa terlalu pikir panjang,cukup nikmati sajian aksi dan komedinya maka film ini bisa banget untuk menghibur hari kalian dengan sajian aksi gembong narkoba yang cukup menarik,apalagi buat kalian yang demen film macam The Raid atau John WIck (meski John Wick lebih kerasa sih aspek dramanya)

Karakter film ini mungkin jadi kekurangan yang paling terasa,meskipun karakter Tyler Rake dan Saju ini memang badass tapi kedua karakter ini punya character arc yang lemah apalagi untuk seukuran karakter utama dengan role yang besar.Tyler punya motivasi yang lemah menurut saya untuk menyelamatkan sang anak terlepas dari berapa banyak flashback memori tentang anaknya.Saju lebih oke sih dengan motivasi yang jelas untuk menyelamatkan sang keluarga setidaknya doi punya fondasi yang lebih kuat,Tyler lebih ke tentara bayaran biasa yang polos.Kendati demikian saya suka dengan karakter antagonis film ini dan dunia gembong atau kartel narkoba yang menarik.Karakter bermunculan tanpa maksud yang jelas apalagi bocah sok asik di akhir film yang mengingatkan saya sama karakter bocah di film Sicario 2 juga menjadi kendala film ini.Narasi film ini biasa saja,tidak ada yang menarik,narasinya juga kurang membantu plotnya yang ingin memberikan sebuah  plot twist yang malah jadi predictable dan murahan.


Aspek visual mungkin jadi kekuatan utama film ini karena film ini memang punya trademark sendiri dalam mengambil adegan aksinya.Campuran fighting style John Wick dengan unsur Gun Fu-nya namun disuguhkan dengan tracking shot ala ala The Raid.Apakah berhasil? menurut saya iya karena film ini jadi punya adegan aksi yang keren dan mendebarkan.Sinematografi dengan tracking shot yang cukup rapih dalam mengambil adegan aksi apalagi one continuous shot selama kurleb 11 menit itu membuat visual film ini cukup impresif.Penggunaan wide shot serta aerial shot kota India juga berhasil membuat sinematografi film ini tidak bisa dianggap remeh meski color palletenya memang sedikit mengganggu.Nih color pallete yang sama dengan film action yang mengambil latar belakang di kota Mexico,buset warnanya oranye banget,terlalu cool jadinya sedikit menggangu.Soundtrack film ini juga bagus kok,diatas ekspektasi malah karena scoring yang dipakai benar benar memacu adrenalin.
Penggunaannya yang efektif dalam situasi atau moment baik itu saat aksi yang mendebarkan maupun drama yang menyentuh hati,semuanya pas.

Overall ya wajar aja nih film sukses di Netflix,rilis saat awal-awal Quarantine di rumah membuat film ini memang cocok untuk mengisi hari dan menjadi film aksi nan menghibur tanpa perlu mikir soal ribetnya cerita atau narasi yang dibawa.Film ini IMO lebih worth it ketimbang film The Old Guard dengan genre yang sama dan di platform yang sama

SCORE : 70

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Cam (2018)

Campuran antara sci-fi dengan horror thriller yang memang memiliki premi menarik serta menghadirkan kritik sosial tentang sosial media. Namun plot dan narasinya yang berantakan malah membuat penonton pada akhirnya merasa tidak puas dan kecewa dengan film satu ini Kalau boleh jujur sebetulnya plot film ini ya biasa saja,premisnya sih memang menarik dan rasanya seperti film Unfriended atau Nerve gitu. Plotnya juga berjalan dengan cukup baik lewat twist yang sudah cukup disiapkan dengan matang. Masalahnya ada di eksekusinya sih,di satu sisi film ini berusaha mengangkat drama realita kehidupan sebagai girl cam dengan konflik percintaan dan keluarga yang memang tidak pernah berjalan mulus. Namun di satu sisi juga film ini berusaha untuk bisa memberikan sajian horror thriller yang memuaskan. Jadinya yah film ini malah kacau, inkonsisten kalau bisa dibilang. Saya pribadi tidak merasakan dimana letak horrornya, saya lebih menganggap film ini sebagai film drama satire tentang realita pengguna s...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.