Langsung ke konten utama

REVIEW : Project Power (2020)

Project Power menandakan film original netflix kedua (setelah The Old Guard) yang punya ide bagus,premis bagus namun sayangnya gagal dalam merealisasikannya ke medium film.Hanya menjual nama para pemeran dan berbagai adegan aksi yang sayangnya juga kurang menghibur
 

Plot film ini jelas klise,apa gunanya punya premis yang menarik kalau ujung ujungnya hanya bertutur dengan cara yang sama? Cerita yang predictable tadi makin diperparah dengan berbagai porsi drama seperti drama ayah anak yang jauh dari kata memuaskan.Entah apa yang ingin film ini tunjukkan karena film ini seharusnya bisa lebih baik andai kata fokus pada genre sci-fi dan actionnya yang dibeberapa bagian memang menghibur dan patut menyandang nama "Project Power".Sama kasusnya seperti The Old Guard bahwa film ini sebetulnya punya potensi yang besar untuk setidaknya menjadi film action sci-fi yang menghibur dan seru namun sayangnya malah menjadi sebuah film klise tidak bernyawa.Paruh awal dan akhir film masih terbilang oke lah untuk ditonton apalagi disaat awal awal kita melihat bagaimana pil pil tersebut mulai merusak masyarakat.Adegan aksinya juga oke dan inovatif dengan berbagai kekuatan unik dari masing masing individu,meski hal yang saya rasakan tiap adegan aksinya berakhir cuma "oh gitu doang"

Karakternya juga lemah dan diperparah dengan chemistry antar karakter yang buruk.Akting Jamie Foxx dan Joseph Gordon Levitt mungkin masih jadi bintang utamanya dengan charisma mereka dalam karakternya tapi yang memang jadi unsur paling menggangu ada pada karakter Robin si remaja yang receh.Mungkin ingin mencontoh karakter Cassandra di film BoP tapi sayangnya karakter Robin di film ini gagal total.Saya pribadi tidak merasakan urgency atau kepentingan Robin untuk ikut serta dalam tiap misi berbahaya .Apalagi ketika keberadaannya hanya untuk membuat film ini punya rasa komedi.Bakal lebih efektif kalau film ini menggunakan genre Buddy Cops antara Jamie dan Joseph tapi yah sayangnya memang harus ada aja karakter ABG gitu biar lucu.Narasinya sih cukup lah ya,sebagai film dengan genre crime dan sedikit thriller nih film punya narasi yang asik ketika melacak bandarnya.Kilasan kilasan flashback yang dialami karakter Art sembari menguatkan character developmentnya juga digunakan dengan cukup baik kok.


Urusan visual nih film suka hit dan miss.Di beberapa sisi saya suka dengan penggunaan warna yang pop dan feel neon banget terutama di warna merah.Sinematografinya juga terbilang cukup bagus dengan extreme shot serta aerial shot yang berhasil membuat visual film ini cantik.Tapi semua hal itu hilang ketika adegan aksinya mulai,shacky camnya itu loh menurut saya gak asik banget (harus belajar sama tim koreografi Iko Uwais nih) dan kadang terlalu banyak cut antar adegan sehingga saya malah jadi bingung sendiri ini lagi berantem atau ngapain.Ada satu continuous shot yang cukup menarik tapi sayangnya digunakan di tempat yang salah padahal lagi dalam adegan action yang rame dan intens tapi masih saya apresiasi kok.Soundtrack film juga cukup oke,banyak lagu lagu pop hiphop yang digunakan di film ini dan masih dalam batas wajar kok.Setidaknya original score yang digunakan pas dalam tiap suasana dan tidak mengulang kesalahan yang sama dengan The Old Guard 

Overall film ini mengecewakan saya (lagi).Premis yang menarik seperti ini harusnya bisa dikembangkan lebih dalam dan menarik lagi dengan story telling yang pintar juga tapi sayangnya film ini hanya sebuah film dengan plot klise dramatis dengan karakter yang lemah.Kalau kalian pengen liat Jamie Foxx dan Joseph Gordon-Levitt adu akting mungkin film ini masih masuk untuk kalian

SCORE : 55

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Cam (2018)

Campuran antara sci-fi dengan horror thriller yang memang memiliki premi menarik serta menghadirkan kritik sosial tentang sosial media. Namun plot dan narasinya yang berantakan malah membuat penonton pada akhirnya merasa tidak puas dan kecewa dengan film satu ini Kalau boleh jujur sebetulnya plot film ini ya biasa saja,premisnya sih memang menarik dan rasanya seperti film Unfriended atau Nerve gitu. Plotnya juga berjalan dengan cukup baik lewat twist yang sudah cukup disiapkan dengan matang. Masalahnya ada di eksekusinya sih,di satu sisi film ini berusaha mengangkat drama realita kehidupan sebagai girl cam dengan konflik percintaan dan keluarga yang memang tidak pernah berjalan mulus. Namun di satu sisi juga film ini berusaha untuk bisa memberikan sajian horror thriller yang memuaskan. Jadinya yah film ini malah kacau, inkonsisten kalau bisa dibilang. Saya pribadi tidak merasakan dimana letak horrornya, saya lebih menganggap film ini sebagai film drama satire tentang realita pengguna s...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.