Campuran antara sci-fi dengan horror thriller yang memang memiliki premi menarik serta menghadirkan kritik sosial tentang sosial media. Namun plot dan narasinya yang berantakan malah membuat penonton pada akhirnya merasa tidak puas dan kecewa dengan film satu ini
Kalau boleh jujur sebetulnya plot film ini ya biasa saja,premisnya sih memang menarik dan rasanya seperti film Unfriended atau Nerve gitu. Plotnya juga berjalan dengan cukup baik lewat twist yang sudah cukup disiapkan dengan matang. Masalahnya ada di eksekusinya sih,di satu sisi film ini berusaha mengangkat drama realita kehidupan sebagai girl cam dengan konflik percintaan dan keluarga yang memang tidak pernah berjalan mulus. Namun di satu sisi juga film ini berusaha untuk bisa memberikan sajian horror thriller yang memuaskan. Jadinya yah film ini malah kacau, inkonsisten kalau bisa dibilang. Saya pribadi tidak merasakan dimana letak horrornya, saya lebih menganggap film ini sebagai film drama satire tentang realita pengguna sosial media. Terlihat dari bagaimana film ini tidak meluruskan atau membahas lebih lanjut berbagai hal mistis atau hal menyeramkan lainnya. First-Third Actnya solid kok dan saya tidak merasa terlalu jenuh atau bosan mengingat durasinya yang sebentar, meski yaa ending film ini memang terlalu terburu-buru sih
Bahas soal karakter sih pertama-tama acting dari lumayan menjadi primadona di film ini. Karakter di film ini juga sedikit sih,bisa dihitung dengan jari. Karena film ini lebih ke character driven yang lebih fokus ke satu karakter utama saja jadinya film ini punya character development yang cukup baik. Melihat bagaimana Lola yang tergila-gila dengan ranking atau status sosial itu terlihat banget dari awal sampai akhir. Chemistry-nya juga dapet sih apalagi ketika film ini lebih memperlihatkan kelurga Lola ketika hubungannya antara sang ibu dan adik mulai renggang. Masalahnya sih Cuma di beberapa peran pembantu seperti teman-temannya yang kurang lebih seperti karakter muncul saat diperlukan aja. Narasi film ini sih yang paling bermasalah ketimbang ceritanya, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya kalau film ini seperti melupakan berbagai plot point yang penting. Dialog-dialognya dan terkadang juga motivasi karakter dalam melakukan suatu hal patut dipertanyakan dan malah jadi kelihatan seperti film horror murahan. Jadi kalau bisa dibilang ini bukan film horror sih, lebih ke drama-thriller dan itu pun minim banget.
Aspek teknis film ini sih satu satunya yang bisa saya apresiasi sih. Visualnya yang terlihat techy dan sesuai dengan genre sci-fi karena berani menggunakan warna pop dari beberapa warna neon sehingga visualnya lebih berwarna, meski terkadang sebuah scene malah terlihat terlalu warm atau cool tapi masih enak dilihat kok. Sinematografinya juga asik, saya sih suka dengan bagaimana film ini sering menggunakan tracking shot. Pergerakan kameranya yang mulus membuat film ini tidak sekedar statis diam saja. Editingnya juga rapih, meskipun cukup fast paced tapi editing dari sebuah layar web lalu ke dunia nyatanya berhasil dipakai dengan efektif sehingga tidak terlalu membuat pusing penontonnya. Soundtracknya juga mantap, score horror-nya mungkin sedikit ketutupan dengan score sci-fi yang elektrik itu. Scorenya pas banget jadi build-up adegan menegangkan sih. Visual dan scorenya itu mengingatkan saya sama film-film dari sutradara Nicholas Winding Refn sih. Setidaknya aspek teknisnya bisa digunakan secara efektif di film ini.
Overall Cam merupakan sebuah film yang salah marketing kalau boleh jujur, seharusnya ini sebuah film drama satire alih-alih sebuah horror-thriller yang nyatanya sepanjang film hanya sebuah “gimmick” belaka. Meski plot dan narasinya lemah dan mengecewakan, setidaknya film ini punya karakter yang oke dengan visual serta soundtrack yang mantap
SCORE : 65++


Komentar
Posting Komentar