Langsung ke konten utama

REVIEW : Greenland (2020)

Film yang bisa dibilang di luar ekspektasi, sudah lama saya tidak melihat film ber-genre bencana atau disaster yang enjoyable dan tidak menyiksa hati. Greenland ini punya eksekusi yang mantap sehingga meskipun budget kecil, film ini tetap membawa drama dan horror-nya sebuah film disaster. 

Sebetulnya film ini punya premis yang basi, udah banyak film disaster atau bencana gini yang punya premis tentang komet yang akan menabrak bumi dan memusnahkan dunia. Namun meski premisnya sudah pasaran banget, film ini terbilang cukup berhasil untuk keluar dari "zona" mediocre tersebut dengan menghadirkan eksekusi yang berbeda. Saya suka dengan plotnya karena film ini mengambil sudut pandang dari warga atau masyarakat biasa, tidak ada sub-plot atau cerita sampah tentang ilmuwan atau pemerintah yang berusaha menanggulangi bencana yang tidak bisa dibantahkan ini. Sepanjang film ini kita dibawa ke pendekatan yang lebih realistis. Mulai dari kepanikan massal hingga penjarahan, filmnya fokus pada perjalanan penuh konflik dan drama menuju keselamatan yang tak mudah. Meski memang Second Act film ini yang kurang mantap dan ada beberapa konflik yang dipaksakan tapi secara keseluruhan sih film ini punya plot yang cukup oke kok. First Act dan Third Act-nya asik banget, penuh drama emosional nan menegangkan, di film ini saya bisa ikut terbawa suasana atas bencana yang terjadi.


Karakter film ini sayangnya generic sekali, karakter template film-film yanga bergenre sama. Gambarannya nih karakternya berkeluarga dan punya masalah (mau cerai atau sudah cerai biasanya), karakter kayak gini sudah sering banget muncul di film seperti ini mulai dari 2012, San Andreas, The Day After Tomorrow, dll. Untungnya akting para pemainnya cukup totalitas, terutama untuk Morena Baccarin. Untungnya para karakter nih punya chemistry yang kuat, konflik drama yang dibawa oleh keluarga kecil ini bisa dihadirkan dengan sangat baik sehingga meski secara garis besar karakternya mediocre tapi masih ada beberapa moment atau adegan yang membuat saya peduli dengan karakter utamanya. Untuk karakter pendukungnya sih ya tidak usah ditanya lah ya, seperti kebanyakan film disaster nih para karakter pendukungnya lemah dan cenderung dilupakan. Bahas soal narasi film ini juga punya narasi yang biasa saja, tapi untuk sekelas film yang sama, Greenland bertutur dengan cukup baik. Jujur saya sampai beberapa kali dibuat stress dan emosional loh sama film ini, konflik yang dibawa ini tidak lebay sehingga masuk akal.
.

Aspek teknis yang dimiliki film ini mungkin jadi bagian yang paling mengecewakan dan kacau dibanding yang lain. Yaaa wajar sih karena setelah saya cek juga budget yang dimiliki film ini terbilang kecil untuk film sekelasnya, hanya $35M. Biasanya film se-meledak ini itu punya budget diatas $50M. Imbasnya di penggunaan CGI-nya yang masih kasar terkadang menganggu pengalaman menonton saya. Ada sih beberapa adegan yang CGI-nya cukup baik namun secara keseluruhan, untuk standar film 2020 yaa film ini punya CGI yang buruk. Sinematografinya juga biasa saja sih, meski memang ada beberapa long take dan extreme shot yang cukup baik tapi terkadang framing-nya suka kacau. Masalah lainnya juga ada di tone warna, third act film ini kok malah jadi film ala ala meksiko yah?? Color palletenya oranye bangettt, lebih oranye dari film semacam Sicario 2 atau Spectre. Mungkin buat kalian yang tidak terlalu merhatin hal ini sih gak bakal mengganggu banget, tapi bagi saya ini cukup merusak pengalaman. Soundtrack film ini juga biasa aja. Score yang diberikan kurang apik sih, kecuali score di akhir film yang cukup mengangkat adegan emosional. Overall biasa sih.
 
Overall Greenland ini sebetulnya bukanlah film yang sangat buruk, film ini menurut saya malah salah satu film disaster atau bencana "bagus", lebih baik dibanding 2012 sudah pasti. Plot yang cukup solid serta akting yang mantap dengan karakter yang cukup saja sudah bisa kok membuat kalian terhibur dengan tontonan bumi ancyur meninggal kayak gini, hanya visualnya saja yang kurang.

SCORE : 60

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Sonic The Hedgehog (2020)

Film Sonic The Hedgehog adalah usaha sekian kalinya industri Hollywood membuat film dari adaptasi game dan secara mengejutkan film ini cukup membuahkan hasil yang positif meski kurang optimal di berbagai aspek Sudah ada berbagai film diadaptasi dari game dan so far kesalahannya ada pada plot yang melupakan origin story karakter utama dalam hal ini si sonic.Plot dibuka terlalu cepat serta beberapa pacing yang buruk.Mimin gak dapet chemistry Tom dan Sonic sepanjang film, apa karena Tom orang yang baik jadi dengan santai mau membantu "alien"??Meski demikian mimin cukup puas dengan ending yang diberikan lewat berbagai aksi spektakuler,scene slow motion mirip quicksilver,dan komedi jenaka yang efektif memang patut diacungi jempol Character Developmentnya memang buruk apalagi kehadiran Sonic yang seakan seakan mengisyaratkan semua sudah tau dan paham betul origin karakternya sehingga karakter Sonic sendiri kurang digarap dengan baik. Narasi yang suka hit dan miss terlebih chemistry...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.