Langsung ke konten utama

REVIEW : Sound of Metal (2019)

Ini adalah tipe film yang ketika kalian selesai menontonnya, film ini bakal nempel terus di benak kalian. Sound of metal merupakan film yang sangat menarik berkat premis dan ceritanya yang bukan hanya menampilkan, namun juga mengajak kita meresapi kehidupan orang yang kehilangan pendengaran.

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal bahwa film ini punya premis yang sangat menarik, tentang pemain drum yang berusaha menjalani hidupnya yang tiba-tiba menjadi tuna rungu (Tuli). Saya pikir film ini yahh bakal seputar perjuangan orang tersebut namun ternyata film ini lebih dari itu. Memang seputar perjuangan seseorang dalam menghadapi kekurangannya namun juga dibalut dengan penerimaan atau rasa pasrah atas apa yang terjadi serta drama romansa. Film yang langsung dimulai dengan konflik membuat saya juga langsung fokus kepada film ini, penasaran bagaimana perjalanan karakter-nya dalam menyikapi hal ini. Film ini rasanya dibuat dengan sepenuh hati untuk para penderita tuna rungu diluar sana, memperlihatkan bagaimana susahnya hidup menjadi mereka namun di satu sisi juga menyuguhkan indahnya, tenangnya hidup mereka. Sebagai film drama, plot yang dibawa ini termasuk solid sih, film ini tidak pernah kehabisan pacing atau konflik untuk tetap menjaga audiens-nya tertarik menonton film yang cukup lama ini. Kekurangannya mungkin di babak akhirnya yang kurang nampol serta aspek drama romansa yang kurang diexplore lagi.


Bahas soal karakter ini pertama-tama saya harus mengapresiasi akting Riz Ahmed yang memang gila dan totalitas sekali, Riz Ahmed berhasil menggambarkan betapa sulitnya dan depresinya ketika seseorang harus membuang mimpi dan cita-citanya akibat penyakit yang dia miliki. Terakhir saya melihat akting Riz Ahmed segila ini ada di serial TV The Night Of dan sekarang Riz Ahmed tampil dengan sangat prima. Karakter di film ini emang bagus semua, tak terkecuali character developmentnya terutama untuk Ruben yang memang menjadi fokus utama film ini, dari yang awalnya menolak hingga akhirnya menerima dan pasrah. Karakter pendukungnya juga keren semua, semua karakter di film ini memorable (mengingat kebanyakan aktor dan aktris-nya yang tuna rungu juga). Narasi film ini biasa saja sebetulnya. Ada satu tema yang di second act sampai akhir itu terasa terlupakan yaitu cita-cita dan ambisi. Selain itu juga karena memang filmnya yang slow paced dan tidak terlalu banyak menggunakan trik khusus dalam bertutur. Namun saya suka dengan konflik yang dibawa film ini, realistis dan tidak lebay.
.

Bahas soal aspek teknis film ini punya visual yang bagus, bukan yang terbaik sih tapi film ini memang punya sinematografi yang mantap. Film ini sering menggunakan tracking shot, terutama ketika ada konflik atau perdebatan sedang terjadi, sehingga kita merasa lebih fokus dengan apa yang di layar, lebih realistis. Beberapa pengambilan gambar extreme shot serta close up juga ditampilkan dengan indah di film ini. Sebagai film yang terbilang "sunyi" film ini menggunakan visualnya dengan maksimal. Satu hal yang membuat saya takjub dan makin cinta sama film ini ada di bagian sound mixing dan sound editing, sutradara Darius Mander benar-benar menggunakan kedua hal tadi sebagai medium untuk membuat kita sesaat menjadi seorang tuna rungu. Contohnya ketika shot dalam keadaan close up terhadap Ruben maka film tidak ada suara, menggambarkan betapa sunyi dan sepi hidupnya. Namun ketika film berubah ke extreme shot (wide shot) maka baru suaranya keluar, memperlihatkan betapa jauhnya mereka dengan suara hidup sesungguhnya. Adegan implan telinga itu benar benar menusuk di hati deh. Urusan soundtrack dan score film ini  mantap.
 
Overall Sound of Metal adalah tipe film yang wajib ditonton sekali seumur hidup kalian, tipe film yang menawarkan pengalaman yang berbeda di kala kalian menonton film Disney. Premis yang menarik berhasil disuguhkan lewat plot solid, akting dan character development mantap, serta aspek teknis yang luar biasa. Film ini seharusnya mendapat perhatian lebih sebagai film yang terbilang "eksperimental".

SCORE : 80++

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Cam (2018)

Campuran antara sci-fi dengan horror thriller yang memang memiliki premi menarik serta menghadirkan kritik sosial tentang sosial media. Namun plot dan narasinya yang berantakan malah membuat penonton pada akhirnya merasa tidak puas dan kecewa dengan film satu ini Kalau boleh jujur sebetulnya plot film ini ya biasa saja,premisnya sih memang menarik dan rasanya seperti film Unfriended atau Nerve gitu. Plotnya juga berjalan dengan cukup baik lewat twist yang sudah cukup disiapkan dengan matang. Masalahnya ada di eksekusinya sih,di satu sisi film ini berusaha mengangkat drama realita kehidupan sebagai girl cam dengan konflik percintaan dan keluarga yang memang tidak pernah berjalan mulus. Namun di satu sisi juga film ini berusaha untuk bisa memberikan sajian horror thriller yang memuaskan. Jadinya yah film ini malah kacau, inkonsisten kalau bisa dibilang. Saya pribadi tidak merasakan dimana letak horrornya, saya lebih menganggap film ini sebagai film drama satire tentang realita pengguna s...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.