Langsung ke konten utama

REVIEW : Ma Rainey's Black Bottom (2020)

Film ini adalah bentuk persembahan terakhir dari akting mendiang Chadwick Boseman yang luar biasa, mengingatkan saya akan film The Dark Knight. Diangkat dari naskah sandiwara atau teater ternama, film ini rasanya seperti menonton penampilan teater yang terkadang kurang pas untuk medium film.

Premis yang dibawa film ini sebetulnya bukanlah terkait seorang penyanyi blues ternama, Ma Rainey's tapi melainkan film ini tentang konflik isu rasisme dan sexisme yang terjadi pada tahun 1920-an. Saya pikir film ini adalah film biopic ternyata film ini diangkat dari script teater yang cukup ternama dengan judul yang sama (mirip film fences). Jadi memang secara garis besar kita seperti menonton acara teater, mulai dari struktur cerita dan konflik yang dibawa juga lebih mirip ke acara teater. Akibatnya film ini lebih banyak konflik dan simbolisme. Buat beberapa orang mungkin film ini kurang cocok karena isinya hanya orang saling ribut dan berdebat satu sama lain. Saya bingung sebetulnya mau mengulas apa di sisi plot karena film ini lebih mengandalkan aspek narasi yang dibawa, cerita yang akan diberikan sepenuhnya tergantung dari dialog dan situasi yang sedang terjadi tapi kebanyakan film ini membahas isu rasisme alih-alih soal band atau sosok Ma Rainey's-nya itu sendiri. Saya pribadi sih tidak masalah dengan plotnya, mirip Fences sih kalau kalian sudah nonton pasti paham (scriptnya dari penulis yang sama juga).


Aspek karakter dan narasi memang jadi kekuatan utama di film ini, mengingat premis serta plot yang seadanya saja memang membuat kebutuhan akting serta dialog solid diperlukan untuk "menyelamatkan" film ini dan ternyata diatas ekspektasi saya. Soal akting saya berani bilang kalau ini adalah film dengan akting dari Chadwick Boseman yang terbaik, makanya saya bilang film ini mengingatkan saya dengan The Dark Knight dimana Heath Ledger mempersembahkan yang terbaik sebelum akhir hayatnya. Viola Davis seperti biasa juga tampil dengan sangat totalitas. Untuk urusan ensamble cast sih saya sangat puas, meskipun memang character developmentnya biasa saja tapi cukup tertolong dengan narasinya. Film ini memang punya narasi yang padat dengan hampir durasi film diisi dengan dialog antar karakter. Simbolisme mulai dari pintu yang tidak bisa dibuka hingga sepatu kuning menjadi salah satu contoh bagaimana film ini menyampaikan pesannya lewat objek. Buat kalian yang mudah bosan dengan film yang hanya berisi dialog mungkin harus hati-hati dengan film ini, tapi bagi saya sih dengan isu rasisme dan sosial yang dibawa serta konflik yang disampaikan dengan baik saja sudah cukup berhasil untuk membuat saya tetap tertarik dengan film ini.


Visual film ini juga kurang lebih sama dengan plotnya, minimalis banget dan seadanya saja. Mengingat latar tempatnya yang kurang lebih sepanjang film hanya di satu tempat atau daerah semakin membuat film ini terasa seperti menonton teater. Secara garis besar visual efek atau CGI yang disuguhkan di film ini kurang mulus di beberapa adegan, untungnya latar tempat di set yang dipakai cukup baik. Sinematografinya juga cukup saja sih, saya suka dengan penggunaan lighting di film ini yang cukup kentara, meski terkadang color palletenya terlalu berlebihan dan cenderung ke warm (meksiko template). Ada beberapa tracking shot serta long take yang cukup menarik tapi sisanya sih biasa banget, wajar sih mengingat film ini yang lebih banyak berdialog. Soundtrack film ini tergantung selera banget sih, karena film satu ini yang memiliki tema lagu bergenre blues sehingga buat kalian yang kurang suka sama lagunya mungkin akan terganggu tapi saya pribadi sih gak masalah. Ada beberapa  lagu yang enak kok, scorenya juga cukup baik dengan alunan musik yang cepat layaknya alunan perkusi musik jazz.
 
Overall Ma Rainey's Black Bottom ini sudah pasti adalah film yang memang ditunjukkan untuk mendiang Chadwick Boseman lewat aktingnya yang mantap. Meskipun plot dan visual yang seadanya saja tapi kalian bakal dibuat terhibur dengan sajian akting dan narasi yang solid serta soundtrack yang asik juga, namun jika kalian tidak suka film penuh dialog ya saran saya sih jangan nonton film ini.

SCORE : 75

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : Sonic The Hedgehog (2020)

Film Sonic The Hedgehog adalah usaha sekian kalinya industri Hollywood membuat film dari adaptasi game dan secara mengejutkan film ini cukup membuahkan hasil yang positif meski kurang optimal di berbagai aspek Sudah ada berbagai film diadaptasi dari game dan so far kesalahannya ada pada plot yang melupakan origin story karakter utama dalam hal ini si sonic.Plot dibuka terlalu cepat serta beberapa pacing yang buruk.Mimin gak dapet chemistry Tom dan Sonic sepanjang film, apa karena Tom orang yang baik jadi dengan santai mau membantu "alien"??Meski demikian mimin cukup puas dengan ending yang diberikan lewat berbagai aksi spektakuler,scene slow motion mirip quicksilver,dan komedi jenaka yang efektif memang patut diacungi jempol Character Developmentnya memang buruk apalagi kehadiran Sonic yang seakan seakan mengisyaratkan semua sudah tau dan paham betul origin karakternya sehingga karakter Sonic sendiri kurang digarap dengan baik. Narasi yang suka hit dan miss terlebih chemistry...
Copyright © Cinegraphy. All rights reserved.